

Bapak Itu Menyimpan Kami (3)

 

 

ACT THREE

Bagian Satu

Deni memandang gelisah ke arah jalanan yang masih penuh sesak dalam
kemacetan regular sore hari. Benaknya terasa begitu kacau saat itu.
Bagaimana kalau bapak itu mencegatnya di pinggir jalan dan begitu saja
menggorok kepalanya? Bagaimana kalau ternyata orang yang digam-
barkannya bukan pelaku aslinya? Bagaimana kalau ia tak pernah lagi
menatap indahnya mentari? Sekitar seperempat jam Deni berkutat dengan
pemikirannya sebelum Sersan Wardi mengejutkannya dari belakang. "Hey.
Jangan melamun."
Deni membalikkan tubuhnya dan menerima sekaleng Coca Cola yang disu-
guhkan kepadanya. "Thanks."
Sersan Wardi tersenyum dan menenggak minumannya sendiri.
"Pak," bisik Deni lirih seolah tak ingin orang-orang lain di kios itu
mendengar pembicaraan mereka, "kok saya jadi takut, ya?"
Sersan Wardi terkekeh dan menepuk pundak pemuda di sebelahnya. "Sudah-
lah. Jangan khawatir. Dengan saya kamu akan aman-aman saja." Sersan
Wardi menyingkap rompi hijau tuanya dan Deni merasa bulu kuduknya
meremang melihat benda hitam berkilat yang terselip di pinggang si
Sersan.
"Ya, kalau Bapak merasa begitu," ucapnya sambil lalu dan meneguk
minumannya. Sersan Wardi tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke
arah jalan raya.
"Mungkin suatu hal yang susah untuk menemukan pelaku di antara sekian
banyak manusia yang berkeliaran di kota ini." Deni mengangguk mende-
ngarkan pernyataan itu. Dalam hati Deni membenarkan ucapan itu. Lagi-
pula belum tentu pelaku itu tahu di mana ia berada sekarang.

Mendadak Deni merasa seseorang menghembus daun kupingnya.

Pemuda itu menoleh ke belakang dan melihat tidak ada siapapun di sana.
Hanya pemilik kios dan seorang bapak gemuk berpakaian safari yang
masih memilih-milih minuman dalam kotak pendingin. Deni memandang ke
sekelilinnya dan mengira-ngira, apakah hembusan itu hanya perasaannya
sendiri.
"Ada apa, Dik?" Sersan Wardi memandang ke arahnya dengan tatapan penuh
tanya. Deni menggelengkan kepalanya, "Entahlah, Pak. Tadi saya seakan
merasakan sesuatu." Sersan Wardi tertawa dan merangkul Deni seraya
berkata, "Itu hanya karena kamu merasa tegang." Beberapa saat kemudian
raut wajah Sersan Wardi berubah tegang, "Apa ini?" Deni merasakan
sesuatu direnggut dari punggungnya. Cepat pemuda itu membalikkan tubuh
menghadap Sersan Wardi yang sudah memegang sehelai kertas tipis di
tangannya. Wajah Sersan itu terlihat tegang saat membaca surat itu,
kemudian matanya memandang ke sekeliling, tangannya perlahan merogoh
ke balik rompi hijau tuanya. Deni mengambil kertas di tangan si Sersan
dan merasakan keringat dingin mengalir di tengkuknya saat membaca isi
surat itu. Huruf-huruf di kertas itu disusun dengan menggunting huruf
dari berbagai judul berita surat kabar. Walaupun berbeda satu huruf
dengan lainnya, namun huruf-huruf itu tersusun rapi.

"I SEE YOU, I TOUCH YOU"

Bapak tadi! Deni memutar tubuhnya dan mencari-cari, tapi bapak berpa-
kaian safari tadi sudah menghilang.

Bagian Dua

Nungki terbangun hari itu dengan tangan masih memeluk buku kecil
bergambar Hello Kitty. Gadis itu mengerjapkan matanya sebentar berusa-
ha memulihkan kesadarannya. Rumah itu terasa sepi. Dalam hati Nungki
bertanya-tanya kemana Joe pergi. Nungki menggeliat dan mengangkat
tubuhnya. Matanya menatap ke arah buku yang terjatuh karena gerakannya
barusan, dan rasa keingintahuannya menyeruak kembali. Ia sudah mengha-
biskan hampir setengah dari isi buku itu semalaman. Nungki mencoba
mengingat-ingat semua yang dituturkan gadis bernama Vika di buku
hariannya. Dari tahun 1993 sampai dengan awal tahun 1994 buku itu
bercerita tentang kesepian gadis Vika, di mana kedua orang tuanya,
terutama ibunya, jarang sekali memberikan perhatian yang cukup pada-
nya. Dan bagaimana pergaulan Vika yang menurut Nungki nyaris mirip
dengannya. Selalu kesepian di tengah keramaian. Dari buku harian itu
pula Nungki mengetahui bahwa pada tahun 1993 ibu gadis itu, isteri
Joe, meninggal karena sebab yang bahkan gadis Vika sendiri tidak tahu
mengapa.

"Dan sejak ulang tahun Vika, Vika tidak pernah lagi menjumpai Mama.
Kitty, Vika tidak mengerti ke mana Mama pergi. Apakah Mama tidak
sayang lagi pada Vika? Kata Papa, Mama sudah pergi dan nggak akan
kembali lagi.?"

...dan sebuah alinea yang berbunyi demikian

"Kitty, Vika benci Papa. Vika tahu Mama sudah meninggal. Kenapa?
Karena Vika mendengar sendiri Papa menangis malam itu sambil bilang,
'Hanah. Kenapa kamu harus meninggal'. Vika kan bukan anak kecil lagi
yang bisa dibodohi seperti itu. Tapi masalahnya, kenapa Papa tidak
pernah mengunjungi makam Mama? Apakah Papa dan Mama berkelahi? Lalu
mengapa Mama meninggal? Jelas saja dong, Vika tidak berani bertanya
pada Papa. Nanti Papa marah, Vika kan takut. Satu lagi, Kitty. Vika
sering mendengar Papa menangis malam-malam."

Nungki mengingat benar kata demi kata yang sempat membuatnya menangis
sesunggukan karena kerinduan kepada ibunya yang mendadak menyeruak
dalam hatinya. Tapi meninggal tanpa sebab? Itu merupakan sesuatu hal
yang benar-benar mengundang rasa ingin tahunya.

Dan kini ia berniat melanjutkannya. Nungki ingin tahu apa yang terjadi
selanjutnya dengan gadis itu. Mungkin ia akan menemukan juga penyebab
mengapa Joe menyekapnya di ruangan itu, seperti penyebab mengapa ia
mendengar erangan-erangan aneh kemarin malam.

"29 Maret 1994

Di luar hujan. Kenapa ya, Kitty. Vika merasa takut sendirian akhir-
akhir ini. Suara tangis Papa terdengar semakin sering. Dulunya sih dua
kali seminggu-an begitu. Tapi sekarang Vika nyaris bisa mendengarnya
setiap hari. Anehnya, mengapa Papa selalu kelihatan biasa saja menje-
lang pagi?"

Nungki merasa bulu kuduknya merinding. Mungkin ada sesuatu yang salah
dengan kematian isteri Joe yang membuatnya sebegitu gelisah hingga
menangis tiap malam. Apakah Joe membunuh isterinya? Nungki meneruskan
membuka lembaran berikutnya. Ternyata lembaran itu adalah lembaran
terakhir yang terisi tulisan. Nungki menghela nafasnya kecewa, tapi ia
meneruskan membaca.

"1 Juni 1994

Hari ini Opa dan Oma akan menjemput Vika. Bayangkan, Vika akan ke luar
negeri. Asik, loh Kitty. Kata Papa sih, Opa dan Oma mau ngajak Vika
jalan-jalan. Pokoknya Kitty jangan khawatir dech, nanti Vika bawain
oleh-oleh dari sana. Ikut? Jangan dech. Kitty di sini saja nemanin
Papa, biar Papa ngga kesepian."

Dan itu adalah tulisan yang terakhir. Rupanya Vika hanya satu setengah
tahun menulis di bukunya. Nungki berpikir sejenak. Lalu mengapa tidak
ada lagi tulisan di buku ini, sementara di atas meja rias foto itu
bertuliskan tahun 1996? Nungki merenung sejenak. Mungkin Vika akhirnya
menetap di sana dan melupakan buku hariannya.
Berpikir demikian Nungki menghela nafas dan menutup buku kecil di
tangannya. Sama sekali tidak ada petunjuk. Gadis itu mulai gelisah.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Banyak hal yang belum jelas di
pikirannya. Yang pasti, firasatnya mengatakan kalau ia berlama-lama di
tempat ini, sesuatu yang mengerikan akan terjadi padanya.

Bagian Tiga

Joe melepaskan baju safari dan kaca mata gelap yang ia kenakan. Ter-
senyum puas setelah memberikan peringatan pada pemuda itu. Joe melang-
kahkan kakinya menuju tong sampah di sudut gang, membuang baju dan
kaca mata itu, lalu melangkah menuju mobil barunya. Joe terkekeh saat
melangkah masuk. Mereka akan menghabiskan waktu mencari mobil Timor
hitam yang sudah dipajang di depan etalase toko itu.
Joe menginjak pedal gas dan berlalu. Dari kaca spion ia masih melihat
pemuda itu kebingungan membalikkan tubuh ke sana ke mari mencari-cari
siapa yang menempelkan kertas itu di punggungnya. Dengan masih terse-
nyum puas Joe melajukan mobilnya pulang.

Joe membawa bungkusan makanan itu dengan hati-hati dan membuka pintu
ruang tamu. Bibirnya bersiul riang. Hari ini ia telah melakukan sesua-
tu yang menurutnya menyenangkan. Joe melangkah menuju ke arah dapur
yang masih terlihat kemerahan di sudut-sudutnya. Lelaki itu meletakkan
bungkusan makanan di atas meja dan mengeluarkannya satu demi satu.
Sebelum pening di kepalanya kembali kumat.
"Arrgghh!!" Joe memegangi kepalanya dan menjambak rambutnya. Teriakan
dan erangan itu melintas lagi di kepalanya.
"Tolong.... Jangan... tolong...." Joe memukulkan tangannya keras-keras
ke atas meja, menimbulkan suara berdebum yang mengejutkan. Beberapa
saat kemudian suara-suara itu hilang dari benaknya. Joe mengusap peluh
yang mengalir di pelipisnya tanpa ia sadari. "Sinting," makinya lalu
meneruskan mengeluarkan bahan makanan dari bungkusan di atas meja.

Joe meletakkan nasi goreng instan itu di atas baki dan tersenyum puas.
Ia bertanya-tanya sedang apa gadis baru itu saat ini? Oh, ya. Joe
membalikkan tubuhnya dan meraih gulungan koran di atas mesin cuci
piring. Aku akang mengejutkannya. Dengan hati-hati Joe mengangkat baki
makanan dan melangkah melintasi lorong menuju ke kamar putrinya yang
sudah meninggal.
Joe menaruh baki makanan di atas lantai dan mengambil segepok kunci
dari kantung celananya, memasukkan anak kunci itu dan memutar gagang
pintu. Bibirnya tersenyum saat melihat gadis itu masih di atas tempat
tidur. Sejenak benaknya melayang pada saat Hanah masih hidup. Saat-
saat yang sama ketika ia mengantarkan makanan untuk isterinya yang
bahkan tak sempat dimakamkan itu.

Gadis di depannya hanya memandang tak berkedip saat ia meletakkan baki
makanan itu di atas meja, "Hai, selamat siang." Gadis itu mengangguk
padanya. Gadis ini berani, pikir Joe dalam hatinya. Sejenak ia merasa
sayang apabila harus mencungkil keluar mata gadis yang masih menatap-
nya itu. Tapi rasa sayang itu takkan bisa mengalahkan rasa sayangnya
pada malaikat kecilnya yang sudah menanti tak sabar di dalam bathtub.
"Joe." Joe mendengar gadis itu menyapanya, "Ya?"
"Joe," gadis itu mengulang namanya, "kemana anak dan isterimu pergi?
Apakah mereka meninggalkanmu?"

Joe terkesiap. Rasa pening itu kembali merasukinya. Hanah. Vika.

"Tidaaakkk!!!" Joe menjerit histeris, tangannya terayun dan baki makan
di atas meja terjatuh menimbulkan bunyi berkelontang. Gadis di atas
tempat tidur melompat dan terjatuh ke sudut ruangan. Joe menjambaki
rambutnya dengan wajah berkerut.
Rasa pening itu hilang dalam sekejap. Joe melepaskan tangannya, meng-
angkat kepalanya dan tersenyum menatap adis yang sudah menyudutkan
tubuhnya dengan berurai air mata.
"Ah, mereka?" Joe menenangkan dirinya dan membereskan tumpahan nasi
goreng di lantai. "Mereka ada di kamarku."
Gadis itu tetap di sudut ruangan. Joe melirik ke kanan dan ke kiri
sebelum menemukan buku kecil itu terselip di balik bantal. Joe mengu-
lurkan tangannya dan mengambil buku kecil itu. Ingatan demi ingatan
saat ia memberikan buku itu pada malaikat kecilnya terulang kembali,
tanpa sadar Joe menangis dengan tersenyum.
"Vika," desahnya seperti membisik. Dimasukkannya buku kecil itu ke
saku belakang celananya, dan kembali menatap gadis di sudut kamar.
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Itu kan makan siang kamu?" Gadis
itu hanya terdiam dengan bahu masih bergetar. Joe menghela nafasnya
dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sebelum menutup pintu,
Joe teringat sesuatu. Diambilnya gulungan koran dari balik bajunya dan
melemparkan gulungan koran itu ke arah si gadis seraya berkata, "Oh,
ya. Ini cowok kamu, bukan? Jangan khawatir, sebentar lagi ia akan
menemani kamu di sini." Dengan tersenyum puas Joe menutup pintu dan
melangkah menelusuri lorong di depan kamar. Belum sampai di sudut
lorong, Joe mendengar jeritan histeris dari gadis di dalam kamar. Joe
menyeringai puas dan menuju kamarnya sendiri, di mana kedua buah
hatinya sudah menunggu.

Joe menatap malaikat kecilnya dan tersenyum. Air mata mengalir di
pipinya. "Ini punya kamu kan, Sayang?" Walau mayat rusak itu masih
tetap diam, namun Joe seakan bisa melihat malaikat kecilnya mengangguk
dan tersenyum. Sebuah suara terngiang di telinganya, "Thanks, Papa."
Dan Joe menyeringai seraya meletakkan buku kecil di tangannya ke
samping bathtub. Joe melangkah menuju meja kerjanya yang terletak di
samping pintu masuk kamar. Tangannya membungkar laci meja tersebut dan
mengeluarkan sebotol cairan berwarna bening.

Bagian Empat

Malam itu Sersan Wardi mengantarnya pulang. Deni masih merasa galau di
hatinya akan kejadian siang tadi. "Pak, kini kita sudah yakin kalau
orang itu pelakunya. Tapi bagaimana kalau orang itu mendatangi saya
lagi, Pak?" Sersan Wardi menatap ke arahnya, "Jangan khawatir, kami
akan menyiapkan enam orang dari regu penyergap untuk memastikan kese-
lamatan Adik. Istirahat saja dahulu, besok kita akan pikirkan apa yang
harus kita lakukan."
Deni mendengus dan melangkah keluar dari mobil. Dua pasang mata meman-
dang di kejauhan. Seringainya tajam.

"Kamu sudah gila ya?" Deni menundukkan kepala saat ayahnya mengumpat
ke arahnya. Ibunya masih menangis saat memegangi tubuh ayahnya,
"Jangan, Pa. Itu bukan salahnya dia." Sang ayah mendengus gusar dan
mengumpat lagi, "Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada kamu? Kamu pikir
kamu akan selamat? Anak gila!"
Deni mengangkat kepalanya dan berlari menuju kamar. Aku tahu kalau ini
memang berbahaya, pikir pemuda itu dalam hati, tapi semua ini sudah
terjadi dan aku terlibat langsung di dalamnya. Dengan pikiran kalut
Deni membenamkan kepalanya ke dalam bantal.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Salah seorang bapak
berpakaian preman menguap, "Uaaahhh. Kelihatannya sepi-sepi saja."
Bapak lain, yang duduk di sebelahnya terkekeh, "Yah mau gimana lagi,
Pak Udin, namanya juga tugas." Bapak yang dipanggil Udin ikut tertawa,
"Saya mau kencing dulu."
Udin membuka pintu mobil dan melangkah keluar, melempar rokok di
jemarinya ke aspal dan melangkah ke balik sebuah pohon, tepat di depan
rumah yang sedang mereka amati.

"Tarjo!" Tarjo menggeliat, rasa kantuknya mendadak sirna saat mende-
ngar rekannya berseru. Cepat dirogohnya senjata di atas dashboard dan
bergegas keluar. Dari kejauhan beberapa mobil terlihat menghampiri
mereka, "Ada apa, Pak?" Tarjo, yang merupakan pemimpin tim buser itu
mengangkat senjatanya sebatas kuping dang berlari miring ke balik
pohon, "Celaka!" Suasana langsung menjadi ribut setelah beberapa orang
itu melihat tubuh Udin yang bersimbah darah dengan tengkorak kepala
yang hancur di bagian belakang. Suara mobil terdengar meraung dari
kejauhan. Tarjo langsung bersikap tegas, "Kalian cepat kejar suara
mobil itu! Yang lain ikut saya masuk ke dalam rumah."

Tarjo mendobrak pintu rumah dan berlari menuju kamar demi kamar diiku-
ti ketiga anak buahnya. Tangannya menunjuk ke sana dan kemari tanpa
suara dan semenit kemudian suara dua pintu didobrak terdengar seren-
tak.
"Pak, di sini!" Tarjo mendengar salah seorang anak buahnya berseru.
Bergegas Tarjo menghampiri kamar tersebut dan melihat kedua bapak dan
ibu pemilik rumah terlentang di atas tempat tidur. Tarjo mengulurkan
jemarinya dan memeriksa denyut nadi kedua tuan rumah tersebut, "Mereka
masih hidup!" Tarjo menghela nafas lega dan masih sempat mencium bau
menyengat kloroform.

Bagian Lima

Joe melarikan mobil bekas yang baru dibelinya tadi siang secepat
mungkin. Bibirnya menyeringai saat ia melirik ke tubuh pemuda yang
menggeletak di sampingnya. "Polisi? Hahaha," Joe terkekeh. Benaknya
masih mengingat bagaimana tadi polisi yang sedang kencing itu dipu-
kulnya kuat-kuat dengan tuas dongkrak. Hanya sekedar peringatan.
Joe memutar setir mobilnya dan memasuki halaman sebuah supermarket
yang buka dua puluh empat jam. Joe menahan nafasnya saat dua buah
mobil melaju dengan kecepatan tinggi di belakangnya. Setelah memasti-
kan kedua mobil itu menghilang di kejauhan, Joe memundurkan lagi
mobilnya dan meninggalkan areal parkir dengan bibir tersenyum puas.
Apa sih susahnya menjebol rumah dengan teknologi jaman sekarang? Dan
polisi-polisi itu begitu tolol. Mereka hanya mengawasi pintu depan.
Dengan rasa bangga yang berlebihan Joe melajukan mobilnya kembali ke
rumah dengan santai.

Bagian Enam

Nungki terbangun dengan badan terasa pegal. Matanya masih terasa perih
akibat sisa-sisa air mata yang sudah meninabobokkannya sejak tadi
siang. Nungki merasa sekujur tubuhnya lelah, diraihnya surat kabar
yang sudah membuat hatinya galau tadi. Nungki kembali membaca kata
demi kata di sudut kanan bawah. Benaknya terasa bingung. Apa yang Deni
lakukan? mengapa ia bisa ikut terlibat? Siapa di belakang semua ini?
Nungki merasa kepalanya pening. Apa yang akan dilakukan Joe pada Deni?
Sejenak Nungki mengingat raut wajah Deni yang selalu mengajaknya
bercanda di ruang baca. "Ah, Deni," Nungki menghela nafasnya. Sekarang
ia harus mencari jalan keluar dari tempat ini.
Nungki memandang ke sekeliling ruangan, dan matanya terhenti pada daun
pintu. Aku bisa membukanya, pikir Nungki dalam hati. Sekarang hanya
alatnya saja. Nungki mebuka laci meja rias. Hanya ada peniti dan tali
nylon. Sambil lalu Nungki mengambil benda-benda itu dan memasukkannya
ke dalam saku bajunya. Nungki memandang ke arah bekas nasi goreng yang
tumpah tadi siang dan nyaris bersorak girang melihat sendok besi yang
tergeletak di atas lantai. Nungki mengambil sendok itu dan mulai
sekuat tenaga memutar paku perekat kaki tempat tidur yang memliki
lubang di mata pakunya. Beberapa menit kemudian Nungki menyeringai
sambil menimang-nimang kaki tempat tidur itu di genggamannya.
Sekarang pintu itu. Nungki meletakkan ujung sendok di engsel pintu dan
mulai mendorong engsel itu keluar perlahan-lahan dengan bantuan kaki
tempat tidur. Setengah jam kemudian kedua engsel itu sudah terlepas.
Nungki menarik gagang pintu sekuat tenaga. Dan pintu itu terjatuh
dengan suara berdebum yang nyaring. Nungki menahan nafasnya. Menduga-
duga apakah Joe ada di rumah saat itu.
Setelah meyakinkan semuanya sepi-sepi saja, Nungki malangkah keluar.
Lorong itu tampak kelam, tidak ada lampu yang menyala. Mendadak Nungki
mendengar suara mobil berhenti. "Celaka!" ucap gadis itu lirih. Segera
diangkatnya daun pintu dan menarik daun pintu itu seolah tidak pernah
terjatuh dari luar. Nungki merasa keringat mulai bercucuran di tubuh-
nya. Sekarang ia harus mencari tempat sembunyi.
Nungki menelusuri lorong di mana ia berada, melewati kamar mandi dan
menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Mungkin di sini tempat
yang bagus. Nungki membuka pintu dan melangkah masuk. Dua detik kemu-
dian gadis itu memekik melihat gentong berisi potongan-potongan tubuh
manusia. Nungki merasa kakinya melemas dan semuanya menjadi begitu
gelap.

Bagian Tujuh

Deni terbangun dan merasakan kekakuan menjalari seluruh tubuhnya.
Pemuda itu membuka matanya yang terasa berat dan memandang nanar ke
arah kegelapan. Mendadak lampu ruangan itu menyala, Deni menyipitkan
matanya. Pemuda itu mendengar suara tertawa. Setelah beberapa saat,
Deni membuka matanya dan terkesiap ketakutan melihat gentong-gentong
kaca yang berisi larutan formalin dan potongan-potongan tubuh manusia.
Deni terkejut saat melihat di sudut ruangan seorang gadis, yang tak
lain adalah Nungki, tergeletak terlentang di atas sebuah kain putih
lebar. Deni mencoba meronta, tapi tali yang mengikat tubuhnya di kursi
kayu itu sangat kuat. Pemuda itu mengerang saat seseorang menjambak
rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang.
"Hey, bagaimana koleksiku? Bagus bukan?"
Deni menggelengkan kepalanya dan orang itu melepaskan jambakannya.
Deni merasa seseorang menghembus kupingnya dan suara tawa itu kembali
terdengar. Deni berusaha menolehkan kepalanya, dan betapa terkejutnya
ia saat melihat orang yang ia tubruk dua hari yang lalu berada di
belakangnya sambil menggenggam sebuah pisau kecil yang berkilat di
tangannya.
"Terkejut? Kurasa tidak," orang itu berkata kepadanya, lalu mengita-
rinya dan menghadapinya. Deni memandang lirikan liar di mata orang
itu, "Siapa kamu? Apa semua ini?"
Joe memandang sekelilingnya dan merentangkan kedua tangannya lalu
memutar-mutar tubuhnya. "Ini? Ini? Ini adalah prosesi kelahiran kemba-
li malaikat kecilku."
Deni merasa bingung apa yang dimaksudkan oleh orang itu. "Lalu Nungki,
gadis itu, untuk apa kamu menculiknya?"
Joe bisa menangkap getaran gusar di mata pemuda itu. Joe tertawa dan
mengambil sebuah spet dari atas meja. "Untuk ini." Joe mengambil lagi
sebuah ampul dari atas meja, mengetuk-ngetuk ampu itu lalu mematah-
kannya. Deni melihat bagaimana Joe tersenyum-senyum menusukkan jarum
spet itu dan menyedot semua cairan yang ada di dalam ampul.
"Kamu tahu ini?" Joe menyeringai ke arah Deni yang tidak menunjukkan
reaksi apapun. Joe melanjutkan, "Ini adalah sejenis amfetamin yang
sudah dilarang beredar di pasaran. Kamu tahu mengapa dilarang? Soalnya
amfetamin ini adalah pain killer dosis tinggi. Hebatnya, obat ini
tidak menyebabkan rasa kantuk bagi yang disuntikkan." Joe merasa bulu
kuduknya meremang mendengar penjelasan itu.
"Gila!" pemuda itu memaki kalang kabut, "Apa yang akan kamu lakukan
dengan obat itu."
Joe tertawa keras. "Hahaha, kita lihat saja. Kuharap kamu juga menik-
mati pertunjukan ini." Joe melangkah menuju ke arah tubuh Nungki yang
masih tergeletak di sudut ruangan.

"TIDAK!!"

Deni menjerit histeris saat menyaksikan Joe menyuntikkan cairan itu ke
pergelangan tangan gadis yang sudah sejak lama disukainya itu. Suara
erangan keluar dari bibir gadis itu saat ia terbangun merasakan ke-
nyerian yang merasuki tubuhnya.

Bagian Delapan

Nungki merasakan kenyerian itu menjalar dari tangan ke otaknya. Gadis
itu membuka matanya dan melihat Joe sudah berlutut di atasnya. Nungki
berusaha menjerit dan meronta, namun tubuhnya terasa lemah dan ta-
ngannya yang tergeletak di samping tubuhnya tak bisa bergerak.
"Jangan banyak bergerak, percuma saja, aku sudah memberikan obat bius
untuk membuatmu lemas."
Nungki memandang penuh kengerian dan terkesiap saat melihat seorang
pemuda terikat di kursi seraya mendelikkan matanya. Nungki berusaha
menggerakkan bibirnya memanggil pemuda itu. Tapi tak ada satupun suara
yang keluar.
"Jangan berbuat macam-macam padanya!" Nungki mendengar Deni berseru
nyaring. Tanpa terasa air mata mengalir ke pipi gadis itu. Nungki
berusaha menggerakkan lengannya sedikit demi sedikit, tapi kembali
tubuhnya terasa tak mengikuti kehendaknya.
Joe tertawa dan membalik ke arah Nungki, lalu melirik jam di perge-
langan tangannya, "Kukira sudah waktunya." Lalu lelaki itu menoleh ke
arah Deni dan menyeringai, "Kamu sudah siap?"
Deni melihat joe mengangkat pisau kecil di tangannya dan menusuk ke
mata gadis di bawahnya. Deni menjerit sejadi-jadinya.

Bagian Sembilan

Nungki tak tahu apa yang terjadi, mendadak ia merasa sesuatu memasuki
kepalanya dan sesuatu terenggut dari tubuhnya. Nungki hanya merasa
pandanganya menjadi nanar dan ia bisa mendengar Joe tertawa. "Iblis!
Setan!" Nungki mendengar Deni berteriak seperti menangis, sementara
gadis itu sendiri tak tahu apa yang tengah terjadi. Dan semuanya
terasa jelas ketika ia melihat Joe yang menyeringai di atasnya sambil
menggenggam sesuatu yang bulat.

Mataku! Mataku!!!!

Nungki membelalakkan matanya dan ketakutan yang amat sangat menjalar
di tubuhnya. Tidak!! Itu mataku!! Air membanjir di pipinya. Nungki
melihat Joe memandangnya dan mengangkat pisau kecil itu kembali.
"Kurang satu dan bye bye."
Saraf-saraf Nungki menegang.
Deni menjerit lagi untuk yang kesekian kalinya.

Bagian Sepuluh

Nungki mengayunkan jarum peniti itu sekuat tenaga. Joe berteriak saat
matanya kirinya terasa perih. Lelaki itu bangkit berdiri dan mengerang
kalang kabut, "Aaaaarrrhhh!!! Ahhkk!!"
Tubuhnya memutar dan kedua tangannya memegangi mata kirinya yang
berlumuran darah. Nungki merasa tubuhnya bergetar menyaksikan kenge-
rian di depan matanya. Tubuhnya kembali terasa lemas setelah kekuatan
bawah sadarnya membuatnya berhasil merogoh kantung celananya dan
menusukkan peniti itu ke mata Joe.
Joe terus mengerang dan memaki. Lelaki itu membuka telapak tangannya
dan denga wajah beringas memandang ke arah gadis yang wajahnya juga
berlumuran darah di bawahnya. Joe membungkuk dan meraih pisau kecil
yang terjatuh dilantai, memandang berang, "Anak anjing! lihat apa yang
sudah kaulakukan!! Aku akan membunuhmu." Joe melangkah mendekati
Nungki yang tak berdaya.

Deni terkesiap menyaksikan semua itu di depan matanya. Dan kini lelaki
itu akan membunuh Nungki. Joe mengerang sekuat tenaga dan menggerakkan
kursi yang didudukinya. "Arrrrgggg!!" Kursi itu terjatuh bersama
tubuhnya dan menghantam gentong berisi potongan tubuh manusia di
sebelahnya.

Segalanya berlangsung amat cepat. Gentong itu menggelinding menumpah-
kan semua potongan tubuh di dalamnya. Joe membalikkan tubuhnya dan
terkesiap saat potongan-potongan tubuh itu berserakan di lantai.
"Tidak! Tidak!" Joe membungkukkan tubuhnya, memunguti semua potongan
tubuh di lantai dan melemparkannya ke dalam bathtub. Deni menunggu
hingga Joe tepat di depannya lalu menghantamkan kepalanya sekuat
tenaga di kaki lelaki itu. Joe mengerang dan terjungkal ke dalam
bathtub. Pisau kecil di genggamannya terjatuh ke lantai.

Nungki memandang penuh kengerian dengan sebelah matanya saat gentong
itu terjatuh dan Joe tergelincir ke dalam bathtub. Mendadak Joe me-
langkah keluar dari dalam bathtub dengan wajah mengerikan, berlumuran
darah dan cairan formalin yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Hgggnnn....kubunuh kalian."

Dan itulah kata-kata terakhir dari Joe yang mereka dengar sebelum Joe
terjungkal kembali ke dalam bathtub.

Bagian Sebelas

Deni memandangi paramedis yang mengangkut Nungki ke dalam ambulans
dengan hati pilu. Gadis itu kini telah kehilangan sebelah matanya.
Deni memikir dalam hati apa yang akan dilakukannya setelah semua ini
berlalu.

Di dalam, Sersan Wardi menutupi mulutnya dengan saputangan seraya
memandang jijik ke arah tubuh Joe yang menelungkup di dalam bathtub.
Mata lelaki itu membeliak menyiratkan rasa penasaran. Dan mayat rusak
itu. Sersan Wardi membuang wajahnya saat melihat mayat wanita yang
sudah setengah membusuk itu seolah merangkul tubuh Joe dengan sebelah
tangannya. Dengan rasa mual, Sersan Wardi melangkah ke luar rumah. Tak
ingin mengingat apa yang baru saja disaksikannya.

Halaman rumah itu penuh dengan orang-orang yang sibuk membersihkan TKP
dan memasang police line. Perlahan sinar matahari mulai tampak men-
jingga di cakrawala, seolah hendak menyapu bersih semua kenangan buruk
di hari setiap orang.

Walau kenangan itu akan tetap ada untuk selamanya.

TAMAT

 

Pengirim: tejo (tejo@uksw.edu)

 

Penilaian Pembaca: Belum Dinilai

 

     
<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>1                                                           </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>